Renungan Kemuning Senja
Airmatanya menetes membasahi pipinya yang merona. Ah..begitu rupanya kalau bercinta. Banyak masalah. Aku mendekatinya. Susana segera memeluk ku dan menyembunyikan tangisnya di pundak ku. Aku hanya mengelus punggungnya dengan lembut tak tahu harus berkata apa. Masalah percintaan bukan bidangku. Daripada salah bicara, lebih baik jadi pendengar setia saja. Setelah cukup lama, aku membuka suara.. “Suzan… aku sudah 2 hari tidak mandi. Tercium tidak bau ku yang asam?”
Susana mengangkat wajahnya sambil menahan tawa, “Pantesan…!”
“Hahaha… nggak tercium kan? Ehmmm… Rexona memang besssstttt!” kataku mencoba menceriakan suasana. Susana tertawa. Aku senang melihatnya. “Aku pergi mandi dulu, ya. Nanti ku antar kau pulang.”
“Boleh tidur di sini tidak?” tanyanya segan.
“Besok nggak ada kuliah?” aku balas bertanya. Susana menggeleng. Aku malas bertanya lebih lanjut, “Ya udah. Nginap aja. Kitapun sudah lama tidak cerita-cerita.”
Semalaman kami bergadang. Saling bertukar cerita dan pengalaman selama tidak bersama. Tenyata banyak hal yang ingin di utarakan. Hanya selama ini tidak pernah ada kesempatan. Malam ini, kebersamaan ini terasa begitu indah. Seharusnya aku berterimah kasih pada Saskia yang telah mengembalikan sahabatku tercinta.
***
“Hi Don Juan…!” sapaku saat melintas di depan Gunawan. “Sudah lama kau berdiri di sini??”
“Sampai jenggotan!” sahut nya sambil menjejeri langkahku. “Kau panggil aku apa tadi?”
“Don Juan! Don Juan kapal perang! Muahahaha…” ucapku mengejeknya. “Pas banget ya?”
“Nggak lucu!” sentak Gunawan dengan memasang wajah sebal.
“Memang ada selingkuh yang lucu?” tanyaku to the point. Langkah Gunaawan seketika terhenti.
“Kau sudah bertemu dengan Suzana?” tanyanya gusar dan penasaran. “Apa katanya?”
“Katanya….,” aku sengaja mengantung kata-kata untuk membuatnya semakin penasaran. “……aku lapar!”
“Oh jadi ingat, mbok Parmi kemarin nayain kamu. Kangen kali…” ucap Gunawan sambil membelokan langkahnya memasuki pelantaran kantin. Aroma soto ayam favoritku sudah tercium. Aku menggegaskan langkah.
Dari belakang, kudengar Gunawan mengejek, “nggak usah buru-buru. Pasti mbok Parmi akan menyisakan semangkuk sotonya yang lezat untuk mu.” Aku mengerling kearahnya dengan senyum simpul. Tau aja, gumanku dalam hati.
Senyum mbok Parmi menyambutku begitu aku melangkah masuk. Setelah berbasa basi sejenak dengan perempuan tua itu, aku menghampiri Gunawan yang sudah lebih dulu membooking tempat duduk.
“Sambil menunggu hidanganmu datang, ceritakan padaku apa kata Suzana?” pinta Gunawan.
Aku terdiam sejenak pura-pura berpikir. Lalu dengan tatapan yang kutajam-tajamkan aku menatapnya. Tepat kematanya. “Suzana bilang, kau berselingkuh dengan Saskia.”
Gunawan balas menatapku, “Kau percaya?”
“Percaya apa?”
“Kalau aku berselingkuh?”
Aku tertawa geli, “Kenapa tidak? Memang ada alasan bagiku untuk tidak percaya?”
Gunawan melotot, “Kau sahabat ku! Seharusnya kau tau aku tidak mungkin berbuat sekonyol itu..apalagi terhadap Suzana.”
“Gunawan, karena aku tahu siapa dirimu…makanya aku percaya apa yang di katakan Suzana. Selain itu, Suzana juga adalah sahabatku…jadi tidak mungkin dia me-reka cerita. Paham?” tandasku dengan nada setegas mungkin. Dengan Mr Don Juan harus sedikit keras dan tegas. Kalau sampai luluh terbujuk dalam kata rayuannya bahaya. Bisa-bisa perang sahabat nih.
Gunawan menggeleng putus asa, “Aku sudah berubah! Aku bukan lagi playboy cap segitiga biru yang kau benci dulu. Aku tulus mencintai Suzana…! Tolonglah Maya, jelaskan padanya! Dia salah paham….”
“Ogah..!” sahutku cepat. “Kau jelaskan sendiri.”
“Jangankan bicara padaku, menemuiku pun dia tidak mau,” ucap Gunawan dengan wajah tertunduk lesu. “Aku sangat mencintainya, Maya. Aku tidak tahu apa jadinya kalau sampai…”
“Kalau sampai apa?” potongku.
“..kalau sampai dia memutuskan aku!” sahutnya dengan keluh.
Aku mau tak mau jadi iba juga melihat wajahnya yang sedih itu. Tapi aku mulai dekat dengan Suzana lagi.... haruskah aku kehilangan dia lagi... demi Gunawan??? Rasa egoisku yang sejak dulu memang sudahpun besar kini semakin mengembang. “Aiyaaaa... banyak yang lebih dari Suzana di luar sana. Kencani saja salah satu dari mereka... kau pasti akan segera melupakan Suzana!"
"Maya.... " ucap Gunawan dengan putus asa.
(bersambung)
- Renungan Kemuning Senja bag 4
- Renungan Kemuning Senja bag 2




0 thoughts:
Post a Comment