Renungan Kemuning Senja
Permusuhan kami bermula dari pertandingan bola volley antar kelas yang selalu diadakan tiap akhir tahun ajaran. Tim ku dan timnya saling berhadapan di final. Karena salah paham, tim ku mendapat bonus angka dan berhasil keluar sebagai juara. Susana tidak terima. Dia melakukan demo dan protes. Tapi tidak di gubris oleh panitia. Akhirnya kemarahannya di limpahkan padaku. Menurutnya karena aku anak kepala sekolah, maka aku di menangkan. Dan menurutnya lagi itu adalah suatu kecurangan. Tentu saja aku tidak terima. Usaha keras sampai lengan lebam-lebam dianggap curang. Tapi sebelum sempat kami beradu mulut, muncul si Ksatria baja hitam yang dengan pesonanya menengahi sengketa. Gunawan, yang tidak gundul apalagi menawan. Tapi sangat simpatik dan penuh perhatian. Dia adalah sahabat ku dan merupakan fans berat si Srikandi jadi-jadian. Akhirnya sengketa di damaikan, tapi permusuhan masih berkepanjangan.
Perdamaian hadir ketika kami menjadi anggota tim bola kasti sekolah. Lagi-lagi si kemayu itu terpilih sebagai kapten tim. Dan lagi-lagi muncul kesalah pahaman. Pada babak pertama kami di menangkan, tim lawan yang tidak terima marah-marah. Entah apa yang terjadi sebenarnya aku tidak terlalu perduli. Hanya kebetulan saja aku berada tak jauh dari Susana yang sedang memberi motivasi, ketika sebuah bola kasti meluncur dengan kecepatan tinggi kearahnya. Susana yang sedang tidak bersiaga menjadi sasaran empuknya. Tentu saja aku tidak terima tim ku dianiaya. Dengan reflek aku meyambar bola itu dan otomatis menyelamatkannya. Ketika di akhir acara Susana menemuiku secara pribadi untuk mengucapkan terima kasih, aku menjawab dengan berdiplomasi, bahwa aku melakukannya karena tidak ingin tim ku kalah karena kaptennya tersungkur tak berdaya terkena lemparan bola. Susana tersenyum sumringah. Dan sejak saat itu….kami selalu bersama-sama. Sebagai kawan setia. Hingga SMP, SMA dan….masa-masa kuliah.
***
Awal kuliah, Susana mulai dating dengan Gunawan. Aku mulai sedikit terlupakan. Hubungannya dengan Gunawan sangat menyita perhatian. Setiap kali kubutuhkan, dia selalu tidak ada. Aku merana dalam kesunyian. Biasanya ada yang menjadi kawan bergurau dan bercanda. Tapi semua kini sudah berubah. Untuk membuang masa dan melipur lara karena di lupakan sahabat tercinta, aku aktif dalam program kemahasiswaan. Menyibukan diri dalam berbagai kegiatan. Hingga akhirnya Susana pun ku lupakan.
Suatu hari, sepulang dari mendaki aku menemui Susana di depan teras rumah kost an. Basah kuyub tersiram hujan. Matanya yang merah menatap ku dengan gelisah. Dia berlari menyambutku dan memeluk ku penuh rindu.
“Aku merindui mu!” ucapnya setelah berganti pakaian dan sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. “Kenapa susah sekali menemuimu, berkali-kali aku kemari…”
“Kau kemari? Kapan?”
“Lima hari yang lalu, tiga hari yang lalu….kemarin…” jelasnya.
“Memang nggak ada yang memberitahu mu kalau aku sedang ikut ekspedisi ke gunung Gede?” tanyaku. Susana mengeleng. “Kau tidak ketemu dengan orang satu kost an ini?”
Susana kembali mengeleng. Aku menatapnya heran, “Jangan-jangan kau kesini tengah malam…”
Susana tertawa tertahan, “Memang malam. Tapi tidak sampai tengah malam. Kau kira aku tidak takut apa…”
“Kan ada Gunawan,” sahutku ringan. Raut wajahnya berubah suram. “Kenapa? Aku salah bicara?”
Susana terdiam. Aku mendekatinya dengan rasa heran. Susana menatapku sendu, “Gunawan selingkuh…”
“Hah??” aku ternganga tak percaya. “Kau bercanda?”
“Aku serius! Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mereka berduaan di dalam kamar ..” ucapnya dengan kalimat terbata-bata menahan sesak di dada.
“Mereka siapa?”
“Gunawan dan Saskia.”
“Saskia anak Kimia?” tanyaku semakin tak percaya.
“Kau mengenalnya?”
“Tidak. Cuma tau aja. Ngapain mereka berduaan di kamar?” tanyaku dengan heran. Susana melotot kearahku. “Apa?”
“Kau ingin aku menanyai mereka?”
“Lho memang kau tidak menanyai mereka?” tanyaku balik.
“Maya…aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu apa yang dilakukan oleh sepasang insan…berduaan dalam…”
“Tau dari mana, kalau kau tidak bertanya? Awas salah duga! Siapa tahu mereka cuma belajar bersama. Gunawan kan ahli Biologi dan Saskia….” Oo aku baru sadar kalau baru saja menyiram minyak dalam api yang bergejolak.
“Praktek biologi! Apalagi? Dasar buaya..! mata keranjang…!” omel Susana dengan geram.
“Siapa?” tanyaku dengan maksud mengoda. Tapi rupanya Susana betul-betul sedang marah.
(Bersambung)




0 thoughts:
Post a Comment